KEDUDUKAN
‘ABDULLAH BIN ‘ABBAS radliyaallaahu ‘anhuma DALAM TAFSIR
AL-QUR’AN :
عن ابن عباس قال : كنت في بيت ميمونة ابنة الحارث فوضعت لرسول الله صلى
الله عليه وسلم طهوره فقال : من وضع هذا ؟ فقالت ميمونة : عبد الله ، فقال :
" اللهم فقهه في الدين وعلمه التأويل "
Dari Ibnu ‘Abbas ia
berkata : “Aku pernah berada di rumah Maimunah binti Al-Haarits. Maka aku
ambilkan untuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (air)
untuk bersuci (thaharah). Beliau pun bertanya : ‘Siapakah yang
mengambilkan (air) ini ?’. Maimunah menjawab : ‘Abdullah’. Beliau bersabda
: ‘Ya Allah, faqihkan ia dalam agama dan ajarkanlah ilmu ta’wil
(tafsir) kepadanya”.
Diriwayatkan oleh
Ibnu Abi Syaibah (12/111-112 no. 12273), Ahmad dalam Al-Musnad(1/266,
314, 328, 335) dan Fadlaailush-Shahabah (2/995-956 no. 1856,
1859, 2/963-964 no. 1882), Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat (2/365),
Al-Fasawiy dalam Al-Ma’rifah wat-Taariikh (1/493-494),
Ath-Thabariy dalam Tahdziibul-Aatsaar (hal. 168 no. 262, hal.
169 no. 263 – Musnad Ibni ‘Abbas), Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir (10/238
no. 10587), Ibnu Hibban (15/531 no. 7055), Ibnu Abi ‘Aashim dalam Al-Ahaadiitsul-Matsaaniy (1/287
no. 380), Al-Haakim (3/534), dan Al-Baihaqiy dalam Dalaailun-Nubuwwah (6/192-193)
– melalui jalan ‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim. Diriwayatkan juga dari
jalan Dawud bin Abi Hind oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir (10/263
no. 10614) dan Ash-Shaghiir(1/197). Juga dari jalan Sulaiman Al-Ahwal
oleh Ath-Thabaraniy dalam Al-Kabiir (12/55 no. 12506)
dan Al-Ausath (3/345 no. 3356) dan Abu Thaahir Adh-Dhuhliy
dalam Al-Fawaaid sebagaimana terdapat dalam Al-Ishaabah (2/331).
Tiga jalan tersebut (‘Abdullah bin ‘Utsmaan bin Khutsaim, Dawud bin Abi Hind,
dan Sulaiman Al-Ahwal) semuanya dari jalan Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas.
Hadits ini shahih dan semua perawinya adalah tsiqah.
Al-Bukhari
meriwayatkan dalam Shahih-nya (1/169 no. 75, 7/100 no. 3756, 13/245
no. 7270) melalui jalan Khaalid, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbas radliyalaahu
‘anhuma secara marfu’ dengan lafadh :
اللهم علِّمْهُ الكتاب.
“Ya Allah,
ajarkanlah ia Al-Kitaab (Al-Qur’an)”.
Dalam lafadh lain :
{اللهم علمه الحكمة} “Ya Allah, ajarkanlah ia Al-Hikmah”.
Al-Bukhari
meriwayatkan dalam Shahih-nya (1/244 no. 143) sebagaimana juga
Muslim dalam Shahih-nya melalui jalan ‘Abdullah bin Ziyad, dari
Ibnu ‘Abbas secara marfu’dengan lafadh :
اللهم فَقِّهْهُ في الدِّين.
“Ya Allah,
faqihkanlah ia dalam agama”.
Namun Muslim tanpa
membawakan lafadh : “dalam agama (fid-diin)”.
Melalui jalan ‘Amr
bin Dinar, dari Kuraib, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata :
أتيت رسولَ الله صلى الله عليه وسلم فدعا الله لي
أن يزيدني علماً وفهماً.
“Aku mendatangi
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau berdoa kepada
Allah untukku agar menambahkan kepadaku ilmu dan kepahaman (dalam agama)”.
Diriwayatkan oleh
Ahmad dalam Fadlaailush-Shahabah (2/956 no. 1857), Al-Fasawiy
dalam Al-Ma’rifah wat-Taariikh (1/518), Ath-Thabariy
dalam Tahdziibul-Aatsaar (hal. 169 no. 264 – Musnad
Ibni ‘Abbas), Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah (1/314-315), dan
Abul-Fadhl Az-Zuhriy dalam Hadiits (1/394 no. 393).
Al-Haafidh Ibnu
Hajar rahimahullah berkata :
وهذه الدعوة مما تحقق إجابة النبي صلى الله عليه
وسلم فيها، لما علم من حال ابن عباس في معرفة التفسير والفقه في الدين رضي الله
تعالى عنه.
“Doa ini merupakan
satu bentuk pemastian/jaminan jawaban dari Nabi shallallaahu ‘alaihi
wasallam di dalamnya, dimana beliau mengetahui keadaan Ibnu ‘Abbas
atas pengetahuannya di bidang tafsir dan kefaqihannya dalam agama – radliyallaahu
ta’ala ‘anhu” [Fathul-Baariy, 1/170].
Al-Haafidh Ibnu
Katsir rahimahullah berkata saat menyebutkan orang yang harus
dirujuk dalam penafsiran Al-Qur’an :
ومنهم الحبر البحر عبد الله بن عباس، ابن عم رسول
الله صلى الله عليه وسلم، وترجمان القرآن وببركة دعاء رسول الله صلى الله عليه
وسلم له حيث قال: "اللهم فقهه في الدين، وعلمه التأويل"
“Di antara mereka
adalah : ‘al-habrul-bahr – ‘Abdullah bin ‘Abbas; anak paman
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, turjumaanul-qur’an,
dan orang yang mempunyai barakah doa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa
sallam, saat beliau bersabda :‘Ya Allah, faqihkanlah ia dalam agama, dan
ajarkanlah ia ilmu ta’wil (tafsir)” [Tafsir Ibni Katsir, 1/8].
Ibnu Mas’ud radliyallaahu
‘anhu berkata :
لو أن ابن عباس أدرك أسناننا ما عاشره منا أحدٌ.
قال وكان يقول : نعم ترجمان القرآن ابن عباس رضي الله عنه.
“Apabila Ibnu ‘Abbas
menjumpai jaman kita, niscaya tidak ada seorang pun di antara kami yang dapat
menandingi (ilmu)-nya. Sebaik-baik penerjemah/penafsir Al-Qur’an adalah Ibnu
‘Abbas radliyallaahu ‘anhu” [Diriwayatkan oleh Abu Khaitsamah dalamAl-‘Ilmu (no.
49), Ahmad dalam Fadlaailush-Shahabah (no. 1860, 1861, 1863),
Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat (2/366), dan yang lainnya;
shahih].
Al-Imam Mujahid bin
Jabar Al-Makkiy rahimahullah berkata :
كان ابن عباس يُسَمَّى البحر من كثرة علمه.
“Ibnu ‘Abbas
dinamakan Al-Bahr (samudera) karena banyaknya ilmu yang ia
miliki” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Fadlaailush-Shahaabah (2/975
no. 1920), Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat (2/366), Al-Fasawiy
dalam Al-Ma’rifah wat-Taariikh (1/496), dan yang lainnya;
shahih].
Telah berkata
Al-Imam Muhammad bin ‘Aliy bin Abi Thaalib (Muhammad bin Al-Hanafiyyah) rahimahullah pada
hari meninggalnya Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma :
اليوم مات رباني هذه الأمة.
“Hari ini, telah
meninggal seorang ulama rabbaniy umat ini” [Diriwayatkan oleh
Ahmad dalam Fadlaailush-Shahaabah (2/951 no. 1842), ‘Abbas
Ad-Duuriy dalam At-Taariikh(2/315-316), Al-Haakim (3/535), dan yang
lainnya; hasan].
TAFSIR ‘ABDULLAH BIN ‘ABBAS radliyallaahu ‘anhu ATAS
QS. AL-MAAIDAH : 44
Allah ta’ala berfirman
:
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ
فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barangsiapa yang
tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir” [QS.
Al-Maaidah : 44].
Berkata Ibnu
‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma saat menafsirkan ayat di atas :
إنه ليس بلاكفر الذي تذهبون إليه، إنه ليس كفراً
ينقل عن ملة : (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ
الْكَافِرُونَ) كفر دون كفر.
“Sesungguhnya ia
bukanlah kekufuran sebagaimana yang mereka (Khawarij) maksudkan. Ia bukanlah
kekufuran yang mengeluarkan dari agama (murtad). ‘Barangsiapa yang tidak
memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir’; yaitu kekufuran di bawah kekufuran (kufrun
duuna kufrin)”.
Diriwayatkan oleh
Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa (8/20), Said bin Manshuur
dalam As-Sunan (4/1482 no. 749), Ahmad dalam Al-Iimaan (4/160
no. 1419) – melalui Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah (2/736 no.
1010), Muhammad bin Nashr Al-Marwaziy dalamTa’dhiim Qadrish-Shalah (2/521
no. 569), Ibnu Abi Haatim dalam At-Tafsiir (4/1143 no. 6364),
Ibnu ‘Abdil-Barr dalam At-Tamhiid (4/237), Al-Haakim (2/313);
yang kesemuanya melalui jalan Sufyan bin ‘Uyainah, dari Hisyaam bin Hujair,
dari Thaawus, dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma.
Al-Haakim berkata :
هذا الحديث صحيح الإسناد ولم يخرجاه.
“Hadits ini sanadnya
shahih, namun tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim”.
Pernyataan ini
disepakati oleh Adz-Dzahabiy. Dishahihkan pula oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shahiihah (6/113),
dan beliau berkata :
أخرجه الحاكم (٢/٣١٣)، وقال : ((صحيح الإسناد)).
ووافقه الذهبي، وحقهما أن يقولا : على شرط الشيخين. فإن إسناده كذلك.
Diriwayatkan oleh
Al-Haakim (2/313) dan ia berkata ‘Shahiihul-isnaad’; dan hal itu
disepakati oleh Adz-Dzahabi. Dan yang benar bagi mereka berdua adalah untuk
mengatakan : “(Shahih) atas persyaratan Al-Bukhari dan Muslim, karena sanadnya
adalah seperti itu”.
Sebagian orang ada
yang melemahkan riwayat ini dengan mempermasalahkan Hisyaam bin Hujair. Di
antara mereka adalah Hamud bin ‘Uqalaa Asy-Syu’aibiy, Sulaiman Al-‘Ulwaan, Abu
Muhammad Al-Maqdisiy, Hasaan bin ‘Abdil-Manaan, dan yang lainnya. Adapun di
Indonesia, pendla’ifan atsar Ibnu ‘Abbas ini banyak disuarakan oleh beberapa
ikhwan HASMI, MMI, dan kelompok takfiriyyun Aman ‘Abdurrahman.
Berikut pembahasan
tentang Hisyaam bin Hujair :
- Hisyaam bin Hujair adalah perawi yang dipakai oleh Al-Bukhari dan Muslim.
- Yahya bin Ma’in (dalam salah satu perkataannya) telah melemahkannya, namun dalam perkataannya yang lain sebagaimana diriwayatkan oleh Ishaaq bin Manshur, ia (Ibnu Ma’in) berkata : “Shaalih”.
- Yahya bin Sa’iid Al-Qaththaan pernah ditanya mengenai hadits Hisyaam bin Hujair, maka ia pun menolak untuk menceritakannya dan tidak pula meridlainya.
- Sufyan bin ‘Uyainah berkata : “Kami tidak mengambil darinya kecuali apa yang tidak kami dapatkan dari selainnya”.
- Al-‘Ijilliy berkata : “‘Tsiqah, shaahibus-sunnah”. Abu Haatim berkata : “Ditulis haditsnya”. Ibnu Syubrumah berkata : ‘Tidak ada di kota Makkah orang yang serupa dengannya’.
- Berkata ‘Abdullah bin Ahmad dari ayahnya : “Laisa bil-qawiy (tidak kuat)’. Aku (‘’Abdullah) berkata : ‘Dia dla’if ?’. Maka ia (Ahmad bin Hanbal) berkata : ‘Ia tidaklah seperti itu (laisa bidzaaka)”.
- Dalam riwayat lain dari ‘Abdullah, Ahmad bin Hanbal berkata : “Hisyaam bin Hujair, orang Makkah, dla’iiful-hadiits”.
- Zakariyya bin Yahyaa As-Saajiy berkata : “Shaduuq”.
- Al-‘Uqailiy memasukkannya dalam Adl-Dlu’afaa’. Begitu juga Ibnu ‘Adiy dalam Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’.
- Ibnu Hibbaan menggolongkannya sebagai perawi tsiqah dalam Ats-Tsiqaat. Begitu pula Ibnu Syaahin dalam Ats-Tsiqaat dan Ibnu Sa’d dalam Ath-Thabaqaat.
- Berkata Adz-Dzahabiy : Tsiqah”. Berkata Ibnu Hajar : “Jujur, tapi ia mempunyai beberapa kesalahan (Shaduuq, lahu auham)”.
[Selengkapnya
silakan periksa : Tahdziibut-Tahdziib 4/267-268, Taqribut-Tahdziib hal.
1020 no. 7338, Miizaanul-I’tidaal 4/295 no. 9219, Tahdziibul-Kamaal 30/179-181, Al-Kaasyif 2/335
no. 5958, Al-Kaamil fidl-Dlu’afaa’ir-Rijaal 8/413-414, Adl-Dlu’afaa’
lil-‘Uqailiy hal. 1458-1459 no. 1947, Ats-Tsiqaat li-Ibni
Hibbaan 7/567, Thabaqaat Ibni Sa’d 5/484, Ats-Tsiqaat
li-Ibni Syaahin hal. 250 no. 1536, Kitaabul-‘Ilal wa
Ma’rifaatir-Rijaal hal. 403 no. 824-825, dan yang lainnya].
Mengenai perkataan
Ahmad bin Hanbal : ‘Laisa bil-qawiy’; maka ini maknanya bukan
pendla’ifan. Hal itu disebabkan beliau sendiri yang mengingkari makna ini
sebagai pendla’ifan dengan perkataannya : ‘laisa bidzaaka’. Oleh
karena itu, maksud perkataan ini adalah bahwa Hisyaam tidaklah berada pada
tingkatan shahih, namun hanya berada pada tingkatan hasan saja.
Syaikhul-Islaam Ibnu
Taimiyyah rahimahullah berkata :
وقد روى عن الإمام أحمد أنه قال: هو ضعيف ليس
بالقوي لكن هذه العبارة يقصد بها أنه ممن ليس يصحح حديثه بل هو ممن يحسن حديثه وقد
كانوا يسمون حديث مثل هذا ضعيفاً ويحتجون به لأنه حسن ...
“Telah diriwayatkan
dari Al-Imam Ahmad dimana ia berkata : ‘Ia dla’if, laisa bil-qawiy’.
Akan tetapi, maksud perkataan ini adalah bahwa ia bukanlah seorang yang
haditsnya berada pada tingkatan shahih, namun hanya berada tingkatan hasan.
Mereka (para ulama) telah menamakan hadits yang seperti ini dengan dla’if,
padahal yang mereka maksudkan dengannya adalah hasan…” [Iqaamatud-Daliil
‘alaa Ibthaalit-Tahliil oleh Syaikhul-Islaam Ibnu Taimiyyah, hal.
243].
Al-Haafidh
Adz-Dzahabiy rahimahullah berkata :
وقد قيل في جَمَاعاتٍ : ليس بالقويِّ ، واحتُجَّ
به . وهذا النَّسائيُّ قد قال في عِدَّةٍ : ليس بالقويّ ، ويُخرِجُ لهم في ((
كتابه )) ، قال : قولُنا : (ليس بالقوي ) ليس بجَرْحٍ مُفْسِد .
“Telah dikatakan
tentang sekelompok (perawi) : ‘Laisa bil-qawiy’, namun ia tetap
digunakan sebagai hujjah’. An-Nasa’i telah berkata mengenai sejumlah perawi
yang dihukumi dengan laisa bil-qawiy dan ia masukkan dalam
kitabnya (As-Sunan) : ‘Perkataan kami mengenai ‘laisa bil-qawiy’
adalah tidak memberikan jarh yang merusakkan (kedudukannya)’ [Al-Muuqidhah
fii ‘Ilmi Musthalahil-Hadiits, hal. 82].
Dalam bagian lain
beliau juga berkata :
وبالا ستقراءِ إذا قال أبو حاتم : ( ليس بالقوي )
، يُريد بها : أنَّ هذا الشيخ لم يَبلُغ درَجَة القويِّ الثَّبْت .
“Dengan menelaah/meneliti
apa yang dikatakan Abu Haatim : ‘Laisa bil-qawiy’; maka yang dimaksudkan
dengannya adalah orang ini tidak mencapat tingkatan (paling atas) kuat dan
tetap/teguh (qawiy tsabat)” [idem, hal. 83].[1]
Lebih lanjut, ketika
‘Abdullah bin Ahmad meriwayatkan dari ayahnya dalam kitab Al-‘Ilal(hal.
403) saat beliau (Ahmad) mengatakan : “Hisyaam bin Hujair, orang Makkah, dla’iiful-hadiits”
; maka beliau melanjutkan dengan membawakan perkataan Ibnu Syubrumah : “Tidak
ada orang di Makkah yang lebih faqih darinya – yaitu Hisyaam bin Hujair”.
Ini semua
menunjukkan bahwa Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah tidak
mendla’ifkan (secara mutlak) Hisyaam bin Hujair sehingga riwayat darinya
dihukumi mardud (tertolak) sebagaimana perkiraan sebagian orang yang
hanya mencermati sebagian perkataan beliau saja.
Adapun jarh Yahya
bin Ma’in yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Ahmad bahwa ia pernah bertanya
kepada Ibnu Ma’in perihal Hisyaam bin Hujair bahwa ia sangat melemahkannya;
maka dalam hal ini harus diperhatikan perkataannya yang lain. ‘Abdullah bin
Ahmad pernah bertanya kepada Yahya bin Ma’in : “Hisyaam bin Hujair lebih engkau
senangi daripada ‘Amr bin Muslim ?”. Ia menjawab : “Ya” [lihat Al-‘Ilal
fii Ma’rifatir-Rijaal, hal. 1204-1205 no. 4024-4025].
Adapun ‘Amr bin
Muslim, maka ternukil dua hal yang berbeda dari Yahya bin Ma’in tentangnya.
Dalam riwayat Ad-Duuriy dan ‘Abdullah bin Ahmad, ia mendla’ifkannya. Adapun
dalam riwayat Ibrahim Al-Junaid, Ibnu Ma’in berkata : “Laa ba’sa bihi (tidak
mengapa dengannya)” [lihat Tahdziibul-Kamaal, 22/244]. Bahkan para
ahli hadits telah menjelaskan tentang peristilahan Ibnu Ma’in, bahwa jika ia
mengatakan laisa bihi ba’s (tidak mengapa dengannya), maka hal itu
ekuivalen dengan tsiqah [lihat Ulumul-Hadiitsoleh
Ibnu Shalah hal. 111 dan Al-Kifaayah oleh Al-Khathiib
Al-Baghdadiy hal. 60].[2]Terkait dengan ini, maka kedudukan Hisyaam
bin Hujair tidaklah lebih rendah dari ‘Amr bin Muslim. Apalagi jika kita lihat
riwayat lain dari Yahya bin Ma’in tentang Hisyaam yang dibawakan oleh Ishaaq
bin Manshuur : “Shaalih” – dan ini merupakan satu bentuk ta’dil sebagaimana
dikenal oleh para ahli hadits. Adz-Dzahabi rahimahullah berkata
:
وكذا لم اذكر فيه من قيل فيه محله الصدق ولا من
قيل فيه يكتب حديثه ولا من لا بأس به ولا من قيل فيه هو شيخ أو هو صالح الحديث فإن
هذا باب تعديل
“Begitu juga, aku
tidak menyebutkan di dalamnya orang yang dikatakan mahaluhush-shidq (tempatnya
kejujuran), yuktabu hadiitsahu (ditulis haditsnya), laa
ba’sa bihi (tidak mengapa dengannya), syaikh, dan shaalihul-hadiits;
maka kesemuanya ini termasuk bagian dari ta’dil” [Al-Mughni
fidl-Dlu’afaa’, 1/4].
Lantas bagaimana
bisa diterima perkataan sebagian kalangan yang menganggap hal ini sebagai
bentuk jarh yang menjatuhkan Hisyaam ? Apalagi dilihat dari
kenyataan bahwa Yahya bin Ma’in termasuk imam yang mutasyaddid dalam
melakukan jarh terhadap perawi.
Oleh karena itu,
atsar Ibnu ‘Abbas sebagaimana dimaksud di awal pembahasan adalah hasan –
dan kemudian ia menjadi shahih dengan penguat-penguatnya.
Hisyaam bin Hujair
yang meriwayatkan atsar ini dari Thaawus dari Ibnu ‘Abbas; mempunyai beberapa
penguat, antara lain :
1. Dikeluarkan oleh Sufyan Ats-Tsauriy dalam Tafsir-nya
(hal. 101 no. 241) :
عن عبد الله بن طاوس عن أبيه قال : قيل لابن عباس
: (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ)،
قال : هي كفره، وليس كمن كفر بالله واليوم الآخر.
Dari ‘Abdullah bin
Thaawus, dari ayahnya, ia berkata : Dikatakan kepada Ibnu ‘Abbas : “Barangsiapa
yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir” ; Ibnu ‘Abbas berkata : ‘Itu adalah kekufurannya,
namun tidak seperti halnya orang yang kufur terhadap Allah dan hari akhir”.
Atsar ini shahih.
Sebagian orang
menilai atsar ini ma’lul karena adanya inqitha’ (keterputusan
sanad) antara Ats-Tsauri dan ‘Abdullah bin Thaawus. Ats-Tsauri tidak mendengar
riwayat dari ‘Abdullah bin Thaawus, dan di antara keduanya terdapat perawi yang
bernama Ma’mar bin Raasyid (sebagaimana riwayat yang akan disebutkan pada no.
2).
Ta’lil ini sama sekali tidak benar, sebab Ats-Tsauri
memang telah mendengar dari ‘Abdullah bin Thaawus sebagaimana terdapat Shahih
Muslim !! Sehingga tidak masalah jika satu waktu Ats-Tsauri
meriwayatkan langsung dari ‘Abdullah bin Thaawus, dan di waktu lain ia meriwayatkan
melalui Ma’mar bin Raasyid.
2. Diriwayatkan dari Wakii’ dan Abu Usamah, keduanya
dari (Sufyaan)
Ats-Tsauriy, dari Ma’mar bin Raasyid, dari ‘Abdullah bin
Thaawus, dari Thaawus, dari Ibnu ‘Abbas dengan lafadh :
هي به كفر، وليس كمن كفر بالله وملائكته وكتبه
ورسله.
“Hal itu dengannya
adalah satu kekufuran. Namun tidak seperti orang yang kufur terhadap Allah,
para malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya”.
Atsar ini shahih,
diriwayatkan oleh : Ahmad dalam Al-Imaan (4/158-159 no. 1414),
Muhammad bin Nashr Al-Marwaziy dalam Ta’dhiimu Qadrish-Shalaah (2/521-522
no. 571-572), Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya (6/166), dan Ibnu
Baththah dalam Al-Ibaanah (2/734 no. 1005).
Sebagian orang
menganggap bahwa riwayat yang dibawakan oleh Sufyaan Ats-Tsauri adalah mudraj.
Hal ini ditunjukkan pada riwayat berikut :
Dari Ma’mar, dari
Ibnu Thaawus, dari ayahnya (Thaawus), ia berkata :
سئل ابن عباس عن قوله : (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ
بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ)، قال : هي كفر، قال ابن
طاوس : وليس كمن كفر بالله وملائكته وكتبه ورسله.
Ibnu ‘Abbas pernah
ditanya tentang firman Allah : ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan
menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang
kafir’, maka ia menjawab : “Hal itu adalah kekufuran”. Berkata Ibnu Thaawus
: “Tidak seperti orang yang kufur terhadap Allah, para malaikat-Nya,
Kitab-Kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya”.
Atsar ini shahih,
diriwayatkan oleh : Ahmad dalam Al-Imaan (4/160 no. 1420),
Ibnu Nashr Al-Marwaziy dalam Ta’dhiimu Qadrish-Shalaah (2/521
no. 570), Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya (6/166), Ibnu Abi Haatim
dalam Tafsir-nya (4/1143 no. 6435), Wakii’ dalam Akhbaarul-Qudlaat (1/41),
dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah (2/736 no. 1009) – semuanya
dari ‘Abdurrazzaq dalam Tafsir-nya (1/191).
Mereka katakan bahwa
lafadh : ‘namun tidak seperti orang yang kufur terhadap Allah, para
malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya’ ; adalah idraaj (sisipan/tambahan)
dari perkataan ‘Abdullah bin Thaawus. Alasan mereka adalah ‘Abdurrazzaq adalah
perawi yang lebih tsiqah dan mutqin dibandingkan
Sufyan Ats-Tsauriy. Ibnu Rajab membawakan riwayat dalam Syarul-‘Ilal dari
Ibnu ‘Askar, dari Ahmad bahwa ia berkata :
إذا اختلف أصحاب معمر فالحديث لعبد الرزاق
“Apabila
shahabat-shahabat Ma’mar berselisih (mengenai riwayat Ma’mar), maka yang
dipegang adalah perkataan ‘Abdurrazzaq”.
Kita jawab :
Bagaimana bisa
dikatakan bahwa ‘Abdurrazzaq lebih tsiqah lagi mutqin dibanding
Sufyaan Ats-Tsauriy ? Padahal beberapa bukti dari perkataan ulama menunjukkan
hal sebaliknya.
Yunus bin ‘Ubaid
mengatakan tidak ada seorang pun yang lebih afdlal daripada
Sufyan. Wahb telah lebih mendahulukan Sufyan daripada Malik (bin Anas) dalam
hal hapalan. Yahya bin Sa’id Al-Qaththaan mendahulukan Sufyaan dibandingkan
Syu’bah, padahal Syu’bah di sisi Ibnul-Qaththaan adalah orang yang paling ia
cintai (dalam periwayatan). Begitu ia mendahulukan Sufyaan atas diri Malik (bin
Anas) – sama seperti Wahb. Ia pun diikuti oleh Abu Haatim dan Abu Zur’ah yang
mendahulukan Sufyan dalam hapalan dibanding Syu’bah. Yahya bin Ma’in tidak
mendahulukan siapapun di atas Sufyan di jamannya dalam hal fiqh, hadits, zuhud,
dan yang lainnya. Ahmad mengatakan bahwa ia tidak mendahulukan siapapun atas
diri Sufyaan di hatinya [lihat selengkapnya dalam Tahdziibut-Tahdziib 2/56-58
– biografi Sufyaan Ats-Tsauriy].
Sedangkan
‘Abdurrazzaq – sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hibban – kadangkala melakukan
kekeliruan jika ia meriwayatkan dari jurusan hapalannya.
Adapun mengenai
perkataan Ahmad yang dibawakan oleh Ibnu ‘Askar, maka tidak shahih dari beliau.
Hal ini dikarenakan Ibnu ‘Askar (Muhammad bin Sahl bin ‘Askar) adalah seorang
yang majhul. Orang ini bukanlah Ibnu ‘Askar yang disebutkan
biografinya dalam Tahdziibul-Kamaal yang merupakan rijaal Muslim,
At-Tirmidziy, An-Nasa’iy, dan yang lainnya[3].
Selain itu, perkataan
Al-Imam Ahmad tersebut telah menyelisihi perkataan beliau yang lain yang lebih
masyhur dan tsaabit. Ibnu Rajab dalam Syarhul-‘Ilal membawakan
perkataan Ahmad dari riwayat Ibraahiim Al-Harbiy, dimana ia (Ahmad) mengatakan
:
إذا اختلف معمر في شئ فالقول قول ابن المبارك
“Apabila Ma’mar
berselisih dalam sebuah riwayat, perkataan yang dipegang adalah perkataan
Ibnul-Mubaarak”.
Perkataan inilah
yang kita pegang jika ada perselisihan mengenai riwayat Ma’mar.
Apalagi Sufyan
Ats-Tsauri termasuk aqraan Ma’mar yang kemudian meriwayatkan
darinya. Bukan ashhaab dari Ma’mar. Oleh karena
itu, dalam kasus ‘Abdurrazzaq dan Sufyan Ats-Tsauriy, sangat tidak tepat jika
mengkaitkan dengan perkataan Ahmad bin Hanbal. Pengunggulan riwayat
‘Abdurrazzaq atas riwayat Sufyan Ats-Tsauriy adalah keliru dalam banyak sisi.
Kesimpulannya :
Shahih riwayat Ibnu ‘Abbas yang dibawakan dari jalan Sufyan Ats-Tsauri, dan
tidak perlu dipertentangkan dengan riwayat ‘Abdurrazzaq.
Catatan penting :
Perkataan Ibnu
‘Abbas dalam riwayat ‘Abdurrazzaq : ‘Hal itu adalah kekufuran’ ;
tidaklah dipahami bahwa beliau mengkafirkan secara mutlak setiap orang yang
tidak berhukum dengan hukum Allah – sebagaimana pendapat kaum takfiriyyun.
Selain alasan bahwa perkataan tersebut ditafsirkan oleh perkataan beliau yang lain
(yang dibawakan oleh Sufyan Ats-Tsauriy dan yang lainnya – yang tidak
memutlakkan dengan kafir akbar yang mengeluarkan dari agama), juga hal itu
bertentangan dengan pemahaman para ulama salaf. Al-Haafidh Ibnu Baththah
Al-‘Ukbariy rahimahullah telah memasukkan perkataan Ibnu ‘Abbas dari
riwayat ‘Abdurrazzaq tersebut dalam bab :
ذكر الذنوب التي تصير بصاحبها إلى كفر غير خارج به
من الملّة
“Penyebutan
dosa-dosa yang menyebabkan pelakunya terjerumus pada kekufuran, tanpa
mengeluarkannya dari agama (murtad)” [Al-Ibaanah, 2/723].
Kita tidak
berkeyakinan bahwa para takfiriyyuun itu lebih paham tentang
tafsir dan ilmu para ulama salaf dibandingkan Ibnu Baththah Al-‘Ukbariy rahimahullah.
3. Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu
‘Abbas, ia berkata tentang firman Allah ta’ala : “Barangsiapa
yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir” :
من جحد ما أنزل الله فقد كفر. ومن أقرّ به ولم
يحكم، فهو ظالم فاسقٌ.
“Barangsiapa yang
mengingkari apa-apa yang diturunkan Allah, maka ia kafir. Barangsiapa yang
mengikrarkannya namun tidak berhukum dengannya, maka ia dhalim lagi fasiq”.
Diriwayatkan oleh
Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya (6/166) dan Ibnu Abi Haatim dalamtafsir-nya
(4/1142 no. 6426 dan 4/1146 no. 6450) dari Al-Mutsanna bin Ibraahiim Al-Aamiliy
dan Abu Haatim, keduanya dari ‘Abdullah bin Shaalih, dari Mu’awiyyah bin
Shaalih, dari ‘Ali bin Abi Thalhah.
Atsar ini adalah
lemah karena kelemahan ‘Abdullah bin Shaalih dan Mu’awiyyah bin Shaalih. Namun
ia menjadi hasan (lighairihi) dengan riwayat sebelumnya.
4. Diriwayatkan dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah rahimahullah,
bahwasannya ia berkata :
"ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم
الكافرون"،"ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم
الظالمون"،"ومن لم يحكم بما أنزل الله فأولئك هم الفاسقون"، قال:
كفر دون كفر، وفسق دون فسق، وظلم دون ظلم.
“Barangsiapa yang
tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir. Barangsiapa
yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang dhalim. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang
diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang faasiq”; (‘Atha’
berkata) : “Kekufuran di bawah kekufuran (yang mengeluarkan dari Islam),
kefasiqan di bawah kefasiqan (yang mengeluarkan dari Islam), dan kedhaliman di
bawah kedhaliman (yang mengeluarkan dari Islam)”.
Atsar ini shahih.
Diriwayatkan oleh
Ahmad dalam Al-Iimaan (4/159-160 no. 1417 dan 4/161 no. 1422)
dan Masaail Abi Dawud (hal. 209), Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya
(6/165-166), Muhammad bin Nashr Al-Marwaziy dalam ta’dhiimu
Qadrish-Shalaah (2/522 no. 575), Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah (2/735
no. 1007 dan 2/736-737 no. 1011), Ibnu Abi Haatim dalam tafsir-nya
(4/1149 no. 6464), serta Al-Qaadli Wakii’ dalam Akhbaarul-Qudlaat (1/43);
semuanya dari jalan Sufyan Ats-Tsauriy, dari Ibnu Juraij, dari ‘Atha’.
Asy-Syaikh Al-Albaniy telah menshahihkan atsar ini dalam Silsilah
Ash-Shahiihah(6/114).
Sebagian orang ada
yang melemahkan atsar ini dengan alasan ‘an’anah dari Ibnu
Juraij – dan ia seorang mudallis.
Kita katakan :
‘An‘anah Ibnu Juraij dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah
dihukumi muttashil bersambung. Ibnu Abi Khaitsamah membawakan
satu riwayat shahih dari Ibnu Juraij, bahwa ia (Ibnu Juraij berkata) :
إذا قلت قال عطاء فأنا سمعته منه وإن لم أقل سمعت
“Apabila aku berkata
: Telah berkata ‘Atha’ , maka artinya aku telah mendengarnya
walau aku tidak mengatakan : Aku telah mendengar” [Tahdziibut-Tahdziib,
2/617 – biografi ‘Abdul-Malik bin ‘Abdil-‘Aziz bin Juraij Al-Umawiy].
Asy-Syaikh Al-Albani
pun kemudian memberikan penegasan :
وهذه فائدة هامة جدا ، تدلنا على أن عنعنة ابن
جريج عن عطاء في حكم السماع
“Ini satu faedah
yang sangat besar, yang menunjukkan pada kita bahwa ‘an’anah Ibnu
Juraij dari ‘Atha’ dihukumi penyimakan (sama’)” [Irwaaul-Ghaliil,
4/244].
Pernyataan di atas
disanggah oleh sebagian takfiriyyuun dengan mengatakan :
Al-Imam Ahmad telah mengatakan bahwa seluruh perkataan Ibnu Juraij, baik dengan
redaksi : ‘telah berkata ‘Athaa’ atau ‘dari
‘Atha’ ; hanya menunjukkan bahwa Ibnu Juraij tidak mendengar dari
‘Atha’. Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu ‘Abdil-Haadiy dalam Bahrud-Damm (hal.
278).
Kita jawab :
Pertama, Al-Imam Ahmad tidak menspesifikkan siapa yang
dimaksud dengan ‘Atha’ di sini ? ‘Atha’ bin Abi Rabbah ataukah ‘Atha’ bin Abi
Muslim Al-Khurasaniy ? Jika dikatakan bahwa Ibnu Juraij tidak pernah mendengar
sama sekali riwayat ‘Atha’ bin Abi Rabbah, maka ini keliru. Sebab, Ibnu Juraij
pernah belajar (menjadi murid) di majelis ‘Atha’ bin Abi Rabbah selama beberapa
tahun. Adz-Dzahabi telah menjelaskan bahwa Ibnu Juraij telah menceritakan
hadits (tahdits) dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah, Ibnu Abi Mulaikah, Naafi’,
dan Thaawus [lihat Siyaru A’laamin-Nubalaa’, 6/326]. Berarti, Ibnu
Juraij pernah bertemu dengan ‘Atha’.
Di sini dapat
diketahui bahwa yang dimaksudkan Ahmad bin Hanbal dalam perkataan di atas
adalah ‘Atha’ bin Abi Muslim Al-Khurasaniy, bukan ‘Atha’ bin Abi Rabbah. Apalagi
ini dikuatkan oleh pernyataan Ahmad :
ابنُ جُرَيْج أثبت الناس في عطاء.
“Ibnu Juraij adalah
orang yang paling tsabt dalam riwayat yang berasal dari ‘Atha’
[Tahdziibut-Tahdziib, 2/617].
‘Atha’ di sini
maksudnya adalah Ibnu Abi Rabbaah.
Dan hal yang
menunjukkan maksud perkataan Ahmad bahwa yang ia lemahkan dari riwayat Ibnu
Juraij dari ‘Atha’ adalah ‘Atha’ bin Abi Muslim Al-Khurasaaniy adalah
kecocokannya dengan perkataan Yahya bin Sa’id Al-Qaththaan. Berkata Abu Bakr :
ورأيت في كتاب علي بن المديني سألت يحيى بن سعيد
عن حديث بن جريج عن عطاء الخراساني فقال ضعيف قلت ليحيى أنه يقول أخبرني قال لا
شيء كله ضعيف إنما هو كتاب دفعه إليه
“Aku melihat di
kitab ‘Ali bin Al-Madiiniy : ‘Aku pernah bertanya kepada Yahya bin Sa’id
tentang hadits Ibnu Juraij dari ‘Atha’ Al-Khurasaaniy. Ia pun menjawab : ‘Dla’iif’.
Aku berkata kepada Yahya : ‘Sesungguhnya ia berkata : Telah
mengkhabarkan kepadaku (akhbaranii)…’. Ia berkata : ‘Tidak ada
artinya. Semuanya dla’iif, karena ia hanya berasal dari kitab yang
diberikan kepadanya” [Tahdziibut-Tahdziib, 2/617-618].
Kedua, Ibnu Juraij sendiri yang menegaskan bahwa ia
mendengar riwayat dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah, baik yang ia sampakan
dengan shigah : aku telah mendengar (sami’tu), atau :
dari (‘an). Lantas, bagaimana bisa dikatakan bahwa ia tidak mendengar
dari ‘Atha’ bin Abi Rabbah ?
Ketiga, perkataan Ibnu Juraij yang menegaskan penyimakannya atas ‘Atha’
yang bersamaan dengan itu terdapat penafikan hal tersebut dari Ahmad (jika kita
permisalkan untuk menerima alasan mereka bahwa ‘Atha’ di sini adalah Ibnu Abi
Rabbaah); maka yang menetapkan lebih didahulukan daripada yang menafikkan (al-mutsbitu
muqaddamun ‘alan-nafyi) – sebagaimana telah ma’ruf dalam
ilmu ushul [Al-Ushul min ‘Ilmil-Ushuul hal. 64].
Walhasil, pelemahan
mereka terhadap atsar ‘Atha’ ini pun tertolak.
Jika kita telah
mengetahui keshahihan perkataan ‘Atha’ ini, maka semakin kuatlah kedudukan
atsar Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma di atas. ‘Atha’ adalah
murid Ibnu ‘Abbas yang menimba ilmu secara langsung kepadanya. Tidaklah terlalu
berlebihan jika dikatakan penafsiran ‘Atha’ atas ayat hukum di atas merupakan
ilmu yang ia peroleh dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma.
Secara keseluruhan, atsar Ibnu ‘Abbas radliyallaahu
‘anhu tentang ayat hukum : kufrun duuna kufrin, hiya kufruhu wa
laisa ka-man kafara billaahi wal-yaumil-aakhiri, atau hiya bihi
kufrun wa laisa ka-man kafara billaahi wa malaaikatihi wa kutubihi wa rusulihi;
adalah shahih. Tidak ada ruang bagi takfiriyyuun untuk
melemahkan atsar ini dan kemudian memutlakkan kekafiran pada setiap orang yang
tidak berhukum dengan hukum Allah tanpa melakukan perincian. Tidak ada satu pun
pendahulu bagi mereka dalam hal ini.
Berikut ini adalah
beberapa nukilan (tidak semua) dari para ulama salaf tentang perkataan/tafsir
Ibnu ‘Abbas terhadap ayat hukum yang semakin mengokohkan pemahaman Ahlus-Sunnah
dan meruntuhkan ‘aqidah ahlul-bida’ (takfiriyyun).


Telah berkata
Isma’il bin Sa’d dalam Suaalaat Ibni Haani’ (2/192) :
سألت أحمد: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ
اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾، قلت: فما هذا الكفر؟ قال: "كفر
لا يخرج من الملة"
“Aku bertanya kepada
Ahmad tentang firman Allah : ‘Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa
yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir’.
Apakah yang dimaksud kekafiran di sini ?”. Maka ia menjawab : “Kekufuran yang
tidak mengeluarkan dari agama”.
Dan ketika Abu Dawud
As-Sijistaaniy bertanya kepada Ahmad dalam kitab As-Suaalaat-nya
(hal. 114) mengenai ayat ini, maka ia (Ahmad) menjawab dengan perkataan Thaawus
sebagaimana telah disebutkan di atas.


Telah berkata dalam
kitabnya Ta’dhiimu Qadrish-Shalaah (2/502) :
ولنا في هذا قدوة بمن روى عنهم من أصحاب رسول الله
صلى الله عليه وسلم والتابعين؛ إذ جعلوا للكفر فروعاً دون أصله لا تنقل صاحبه عن
ملة الإسلام، كما ثبتوا للإيمان من جهة العمل فرعاً للأصل، لا ينقل تركه عن ملة
الإسلام، من ذلك قول ابن عباس في قوله: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ
اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾
“Dan kami memiliki
panutan dalam hal ini dengan apa yang diriwayatkan oleh para shahabat
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan tabi’iin : Yaitu
ketika mereka menjadikan kekufuran itu bercabang-cabang dari pokoknya yang
tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, sebagaimana mereka menetapkan
amal cabang dari pokok iman yang tidak mengeluarkan orang yang meninggalkannya
dari agama Islam. Hal itu didasari oleh perkataan Ibnu ‘Abbas atas
firman Allah ta’ala : Barangsiapa yang tidak memutuskan
menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang
kafir”.
Setelah menyebutkan
atsar dari ’Atha’ (sebagaimana di atas) beliau berkata :
وقد صدق عطاء؛ قد يسمى الكافر ظالماً، ويسمى العاصي من
المسلمين ظالماً، فظلم ينقل عن ملة الإسلام وظلم لا ينقل
”Sungguh telah
benar ’Atha’ dalam hal ini. Seorang yang kafir itu bisa disebut sebagai
orang yang dhalim; dan orang yang bermaksiat dari kaum muslimin pun bisa
disebut dengan orang yang dhalim. Kedhaliman (ada dua), yaitu yang dapat
mengeluarkan seseorang dari agama Islam dan yang tidak mengeluarkan dari agama
Islam” [Ta’dhiimu Qadrish-Shalah, 2/523].


Beliau berkata :
وأولـى هذه الأقوال عندي بـالصواب, قول من قال:
نزلت هذه الاَيات فـي كافر أهل الكتاب, لأن ما قبلها وما بعدها من الاَيات ففـيهم
نزلت وهم الـمعِنـيون بها, وهذه الاَيات سياق الـخبر عنهم, فكونها خبرا عنهم
أولـى. فإن قال قائل: فإن الله تعالـى ذكره قد عمّ بـالـخبر بذلك عن جميع من
لـم يحكم بـما أنزل الله, فكيف جعلته خاصّا؟ قـيـل: إن الله تعالـى عمّ بـالـخبر
بذلك عن قوم كانوا بحكم الله الذي حكم به فـي كتابه جاحدين فأخبر عنهم أنهم بتركهم
الـحكم علـى سبـيـل ما تركوه كافرون. وكذلك القول فـي كلّ من لـم يحكم بـما أنزل
الله جاحدا به, هو بـالله كافر, كما قال ابن عبـاس.....
”Yang lebih benar
dari perkataan-perkataan ini menurutku adalah adalah, perkatan orang yang
mengatakan bahwa : ”Ayat ini turun pada orang-orang kafir dari Ahli Kitab,
karena sebelum dan sesudah (ayat tersebut) bercerita tentang mereka. Merekalah
yang dimaksudkan dalam ayat ini. Dan konteks ayat ini juga mengkhabarkan
tentang mereka. Sehingga keberadaan ayat ini sebagai khabar tentang mereka
lebih didahulukan”. Apabila ada yang berkata : ”Sesungguhnya Allah ta’ala menyebutkan
ayat ini bersifat umum bagi setiap orang yang tidak berhukum dengan hukum
Allah, bagaimana engkau bisa menjadikan ayat ini khusus (berlaku pada orang
Yahudi) ?”. Maka kita katakan : ”Sesungguhnya Allah menjadikan keumuman tentang
suatu kaum yang mereka itu mengingkari hukum Allah yang ada dalam Kitab-Nya,
maka Allah mengkhabarkan tentang mereka bahwa dengan sebab mereka meninggalkan
hukum Allah mereka menjadi kafir. Demikian juga bagi mereka yang tidak berhukum
dengan hukum Allah dalam keadaan mengingkarinya, maka dia kafir sebagaimana
dikatakan oleh Ibnu ’Abbas....” [Jamii’ul-Bayaan/Tafsir Ath-Thabari,
6/166].


Dalam kitab beliau
yang berjudul Al-Ibaanah 2/723 disebutkan { باب ذكر الذنوب التي تصير بصاحبها إلى
كفر غير خارج به من الملّة }
”Bab : Sejumlah dosa yang mengantarkan pelakunya kepada kekufuran yang tidak
mengeluarkan dari agama”.
Di antara yang
disebutkan dalam bahasan bab ini adalah : { الحكم بغير ما أنزل الله} ”Berhukum dengan selain apa-apa yang
diturunkan Allah”. Kemudian beliau menyebutkan atsar-atsar dari para
shahabat dan tabi’in[4] bahwa
(yang dimaksud kekufuran tersebut adalah) kufur ashghar yang tidak mengeluarkan
(pelakunya) dari agama”.


Beliau berkata :
وأجمع العلماء على أن الجور في الحكم من الكبائر
لمن تعمد ذلك عالما به، رويت في ذلك آثار شديدة عن السلف، وقال الله عز وجل: ﴿
وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾،﴿
الظَّالِمُونَ ﴾،﴿ الْفَاسِقُونَ ﴾ نزلت في أهل الكتاب، قال حذيفة وابن عباس: وهي
عامة فينا؛ قالوا ليس بكفر ينقل عن الملة إذا فعل ذلك رجل من أهل هذه الأمة حتى
يكفر بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر روي هذا المعنى عن جماعة من العلماء
بتأويل القرآن منهم ابن عباس وطاووس وعطاء
”Para ulama telah
bersepakat bahwa kecurangan dalam hukum termasuk dosa besar bagi yang sengaja
berbuat demikian dalam keadaan mengetahui akan hal itu. Diriwayatkan
atsar-atsar yang banyak dari salaf tentang perkara ini. Allah ta’ala berfirman
: (Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah,
maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir) , (orang-orang yang
dhalim), dan (orang-orang yang fasiq) ; ayat ini turun kepada Ahli
Kitab. Hudzaifah dan Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhum telah
berkata : ”Ayat ini juga umum berlaku bagi kita”. Mereka berkata : ”Bukan
kekafiran yang mengeluarkan dari agama apabila seseorang dari umat ini (kaum
muslimin) melakukan hal tersebut hingga ia kafir kepada Allah,
malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari akhir.
Diriwayatkan makna ini oleh sejumlah ulama ahli tafsir, diantaranya :Ibnu
’Abbas, Thawus, dan ’Atha’” [At-Tamhiid, 5/74].
وقد ضلت جماعة من أهل البدع من الخوارج والمعتزلة
في هذا الباب فاحتجوا بهذه الآثار ومثلها في تكفير المذنبين، واحتجوا من كتاب الله
بآيات ليست على ظاهرها مثل قوله عزّ وجل: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ
اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾
”Dan sungguh telah
sesat sekelompok ahlul-bida’ dari Khawarij dan Mu’tazillah
dalam bab ini. Mereka berhujjah dengan atsar-atsar ini dan yang semisal dengannya
untuk mengkafirkan orang-orang yang berbuat dosa. Mereka juga berhujjah dengan
ayat-ayat Kitabullah tidak sebagaimana dhahirnya seperti
firman Allah ’azza wa jalla: ”Barangsiapa yang tidak
berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir” [At-Tamhiid, 17/16].


Beliau berkata :
أن من لم يحكم بما أنزل الله جاحداً له، وهو يعلم
أن الله أنزله؛ كما فعلت اليهود؛ فهو كافر، ومن لم يحكم به ميلاً إلى الهوى من غير
جحود؛ فهو ظالم فاسق، وقد روى علي بن أبي طلحة عن ابن عباس؛ أنه قال: من جحد ما
أنزل الله؛ فقد كفر، ومن أقرّبه؛ ولم يحكم به؛ فهو ظالم فاسق
"(Kesimpulannya),
bahwa barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah
dalam keadaan mengingkari akan kewajiban (berhukum) dengannya padahal dia
mengetahui bahwa Allah-lah yang menurunkannya – seperti orang Yahudi – maka
orang ini kafir. Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang
diturunkan Allah karena condong pada hawa nafsunya - tanpa adanya pengingkaran
– maka dia itu dhalim dan fasiq. Dan telah diriwayatkan oleh Ali bin
Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas bahwa dia berkata : ‘Barangsiapa yang
mengingkari apa-apa yang diturunkan Allah maka dia kafir. Dan barangsiapa yang
masih mengikrarkannya tapi tidak berhukum dengannya, maka dia itu dhalim dan
fasiq" [Zaadul-Masiir, 2/366].


Beliau berkata :
وإذا كان من قول السلف: (إن الإنسان يكون فيه
إيمان ونفاق)، فكذلك في قولهم: (إنه يكون فيه إيمان وكفر) ليس هو الكفر الذي ينقل
عن الملّة، كما قال ابن عباس وأصحابه في قوله تعالى: ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا
أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ قالوا: كفروا كفراً لا ينقل عن
الملة، وقد اتّبعهم على ذلك أحمد بن حنبل وغيره من أئمة السنة
”Ketika terdapat
perkataan salaf : Sesungguhnya manusia itu terdapat padanya keimanan dan
kemunafikan. Begitu juga perkataan mereka : Sesungguhnya manusia terdapat
padanya keimanan dan kekufuran. (Kufur yang dimaksud) bukanlah kekufuran yang
mengeluarkan dari agama. Sebagaimana perkataan Ibnu ’Abbas dan
murid-muridnya dalam firman Allah ta’ala : ”Barangsiapa
yang tidak berhukum/memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka
mereka itu adalah orang-orang yang kafir” ; mereka berkata : ”Mereka
telah kafir dengan kekafiran yang tidak mengeluarkan dari agama”. Hal tersebut
diikuti oleh Ahmad bin Hanbal dan selainnya dari kalangan imam-imam sunnah” [Majmu’
Al-Fatawa, 7/312].


Beliau berkata :
وقد قال النبي صلى الله عليه وسلم: "لا إيمان
لمن لا أمانة له". فنفى عنه الإيمان ولا يوجب ترك أداء الأمانة أن يكون كافرا
كفرا ينقل عن الملة. وقد قال ابن عباس في قوله تعالى: {وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا
أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ}: ليس بالكفر الذي يذهبون إليه.
وقد قال طاووس: سئل ابن عباس عن هذه الآية فقال: هو به كفر, وليس كمن كفر بالله
وملائكته وكتبه ورسله. وقال أيضا: كفر لا ينقل عن الملة.....
“Telah bersabda
Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Tidak beriman
orang yang tidak mempunyai amanah’. Di sini beliau shallallaahu
‘alaihi wa sallam menafikkan darinya keimanan, namun tidaklah
berkonsekuensi atas hal tersebut bagi orang yang tidak menunaikan amanat
menjadi kafir dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari agama (islam). Telah
berkata Ibnu ‘Abbas atas firman Allah ta’ala : ‘Barangsiapa
yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir’ : ‘Bahwasannya ia bukanlah kekufuran sebagaimana
yang mereka (Khawarij) maksudkan’. Thaawus berkata : Ibnu ‘Abbas pernah ditanya
tentang ayat ini, maka ia menjawab : ‘Itu adalah kekufurannya, namun tidak
seperti halnya orang yang kufur terhadap Allah, para malaikat-Nya,
kitab-kitab-Nya, dan Rasul-Rasul-Nya’. Ia berkata pula : ‘Kufur yang tidak
mengeluarkan dari agama’…” [Ash-Shalaah wa Ahkaamu Taarikihaa, hal
54-55].


Beliau berkata :
فالحكم بغير ما أنزل الله من أعمال أهل الكفر، وقد
يكون كفرً ينقل عن الملة، وذلك إذا اعتقد حله وجوازه، وقد يكون كبيرة من كبائر
الذنوب، ومن أعمال الكفر قد استحق من فعله العذاب الشديد .. ﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم
بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾ قال ابن عباس: كفر دون
كفر، وظلم دون ظلم، وفسق دون فسق، فهو ظلم أكبر عند استحلاله، وعظيمة كبيرة عند
فعله غير مستحل له
”Berhukum dengan
selain yang diturunkan Allah termasuk perbuatan orang-orang kafir, kadangkala
hal itu bisa mengeluarkannya dari Islam. Yang demikian itu apabila ia meyakini
tentang kebolehannya. Dan kadangkala ia merupakan dosa besar, dan hal ini
termasuk perbuatan orang-orang kafir yang berhak atas perbuatannya adzab yang
keras..... {Barangsiapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan
Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir}, telah
berkata Ibnu ’Abbas : Kekufuran di bawah kekufuran (kufur ashghar),
kedhaliman di bawah kedhaliman, dan kefasiqan di bawah kefasiqan. Hal itu
menjadi kedhaliman yang besar apabila menghalalkannya, dan menjadi dosa besar
apabila tidak menghalalkannya” [Taisir Kariimir-Rahman, 2/296-297].


Beliau berkata :
اطلعت على الجواب المفيد القيّم الذي تفضل به صاحب
الفضيلة الشيخ محمد ناصر الدين الألباني – وفقه الله – المنشور في جريدة
"الشرق الأوسط" وصحيفة "المسلمون" الذي أجاب به فضيلته من
سأله عن تكفير من حكم بغير ما أنزل الله – من غير تفصيل -، فألفيتها كلمة قيمة قد
أصاب فيه الحق، وسلك فيها سبيل المؤمنين، وأوضح – وفقه الله – أنه لا يجوز لأحد من
الناس أن يكفر من حكم بغير ما أنزل الله – بمجرد الفعل – من دون أن يعلم أنه
استحلّ ذلك بقلبه، واحتج بما جاء في ذلك عن ابن عباس – رضي الله عنهما – وغيره من
سلف الأمة.
ولا شك أن ما ذكره في جوابه في تفسير قوله تعالى:
﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ
الْكَافِرُونَ ﴾، ﴿...الظَّالِمُونَ ﴾، ﴿ ...الْفَاسِقُونَ ﴾، هو الصواب، وقد أوضح
– وفقه الله – أن الكفر كفران: أكبر وأصغر، كما أن الظلم ظلمان، وهكذا الفسق
فسقان: أكبر وأصغر، فمن استحل الحكم بغير ما أنزل الله أو الزنا أو الربا أو
غيرهما من المحرمات المجمع على تحريمها فقد كفر كفراً أكبر، ومن فعلها بدون
استحلال كان كفره كفراً أصغر وظلمه ظلماً أصغر وهكذا فسقه
“Aku telah
mengetahui jawaban yang bermanfaat dan lurus dari Fadlilatusy-Syaikh Muhammad
Nashiruddin Al-Albani – semoga Allah memberinya taufik – yang disebarkan lewat
surat kabar Asy-Syarqul-Ausath dan Al-Muslimuun ketika
beliau menjawab pertanyaan tentang ‘Pengkafiran Orang yang Berhukum dengan
Selain Hukum Allah Tanpa Adanya Perincian”. Aku mendapatkannya sebagai suatu
jawaban yang sangat berharga dan beliau telah benar dalam hal ini. Beliau –
semoga Allah memberinya taufiq – telah menempuh jalan kaum mukminin serta
menjelaskan bahwa tidak boleh bagi seorang di antara umat ini untuk
mengkafirkan orang yang berhukum dengan selain hukum Allah hanya sekedar karena
dia mengerjakannya tanpa mengetahui bahwasannya dia menghalalkan dalam hati.
Beliau pun berdalil dengan apa-apa yang diriwayatkan oleh Ibnu
‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma dan dari salaf umat ini.
Tidak diragukan lagi bahwa jawaban beliau tentang tafsir ketiga firman Allah
itu (QS. Al-Maaidah : 44,45,47) sudah benar. Beliau menjelaskan – semoga Allah
memberinya taufiq – bahwa kufur itu ada dua macam : kufur besar dan kufur
kecil, sebagaimana kedzaliman dan kefasiqan itu ada dua : besar dan kecil. Maka
barangsiapa yang menghalalkan berhukum dengan selain hukum Allah atau zina,
riba, atau yang selainnya dari hal-hal yang diharamkan secara ijma’, maka dia
kafir dan melakukan kufur besar (keluar dari Islam), dzalim dengan kedzaliman
yang besar, serta fasiq dengan kefasiqan yang besar. Dan barangsiapa yang
melakukannya tanpa ada penghalalan, maka kekafirannya adalah kufur kecil,
kedzalimannya adalah kedzaliman kecil, dan demikian pula kefaiqannya.” [Asy-Syarqul-Ausath no.
6156, 12-5-1416 H].


«..﴿ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ
اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ ﴾؛ فما المراد بالكفر فيها؟ هل هو الخروج
عن الملة؟ أو أنه غير ذلك؟، فأقول: لا بد من الدقة في فهم الآية؛ فإنها قد تعني
الكفر العملي؛ وهو الخروج بالأعمال عن بعض أحكام الإسلام. ويساعدنا في هذا الفهم
حبر الأمة، وترجمان القرآن عبد الله بن عباس رضي الله عنهما، الذي أجمع المسلمون
جميعاً – إلا من كان من الفرق الضالة – على أنه إمام فريد في التفسير.
فكأنه طرق سمعه – يومئذ – ما نسمعه اليوم تماماً
من أن هناك أناساً يفهمون هذه الآية فهماً سطحياً، من غير تفصيل، فقال رضي الله
عنه: "ليس الكفر الذي تذهبون إليه"، و:"أنه ليس كفراً ينقل عن
الملة"، و:"هو كفر دون كفر"، ولعله يعني: بذلك الخوارج الذين خرجوا
على أمير المؤمنين علي رضي الله عنه، ثم كان من عواقب ذلك أنهم سفكوا دماء
المؤمنين، وفعلوا فيهم ما لم يفعلوا بالمشركين، فقال: ليس الأمر كما قالوا! أو كما
ظنوا! إنما هو: كفر دون كفر... ».
“….Barangsiapa
yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir. Kekufuran apakah yang dimaksud dalam ayat ini?
Apakah kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam ataukah tidak? Aku
berkata : Kita harus teliti dalam memahami ayat ini. Dan terkadang yang
dimaksud oleh ayat adalah kufur amali, yaitu melakukan beberapa perbuatan yang
mengeluarkan pelakunya dari sebagian hukum-hukum Islam. Pemahaman kita ini didukung
oleh Habrul-Ummah dan Penafsir Al-Qur’an Abdullah bin Abbas radliyallaahu
anhuma, yang telah disepakati oleh seluruh kaum muslimin-kecuali
kelompok-kelompok sesat - bahwa beliau adalah seorang imam yang tiada bandingnya
dalam tafsir Alquran. Seakan-akan beliau ketika itu telah mendengar apa yang
kita dengar pada hari ini bahwa disana ada sekelompok orang yang memahami ayat
ini dengan pemahaman yang dangkal tanpa perincian.
Beliau berkata : Bukan seperti kekufuran yang kalian (Khawarij) maksudkan,
(yaitu) bukan kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari agama”. Akan tetapi
yang dimaksud adalah kufrun duna kufrin”. Mungkin yang beliau maksudkan dengan
hal itu adalah kaum Khawarij yang memberontak terhadap Amirul-Mukminin Ali radliyayaallahu
‘anhu, dan termasuk akibat dari perbuatan mereka adalah tertumpahnya darah
kaum mukminin, mereka melakukan perbuatan keji terhadap kaum mukminin yang
tidak mereka lakukan kepada kaum musyrikin, maka beliau berkata terhadap mereka,
“Bukanlah perkara itu sebagaimana yang mereka katakan dan mereka duga, akan
tetapi yang dimaksud adalah kufrun duna kufrin (kekafiran yang tidak
mengeluarkan dari islam)” [At-Tahdziir min Fitnatit-Takfiir, hal. 56].


Beliau berkata :
هذه الآية قيل إنها نزلت في اليهود وأستدل هؤلاء
بأنها كانت في سياق توبيخ اليهود قال الله تعالى (إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ
فِيهَا هُدىً وَنُورٌ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا
لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ
كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ فَلا تَخْشَوُا النَّاسَ
وَاخْشَوْنِ وَلا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَناً قَلِيلاً وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ
بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ) وقيل إنها عامة لليهود
وغيرهم وهو الصحيح لأن العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب ولكن ما نوع هذا الكفر
قال بعضهم إنه كفر دون كفر ويروى هذا عن ابن عباس رضي الله عنهما وهو كقوله صلى
الله عليه وعلى آله وسلم (سباب المسلم فسوق وقتاله كفر) وهذا كفر دون كفر بدليل
قول الله تعالى (وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا
فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى
فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِنْ فَاءَتْ
فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ
الْمُقْسِطِينَ إنما المؤمنون أخوة) فجعل الله تعالى الطائفتين المقتتلتين أخوة
للطائفة الثالثة المصلحة وهذا قتال مؤمن لمؤمن فهو كفر لكنه كفر دون كفر وقيل إن
هذا يعني قوله تعالى (وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ
هُمُ الْكَافِرُونَ) ينطبق على رجل حكم بغير ما أنزل الله بدون تأويل مع علمه بحكم
الله عز وجل لكنه حكم بغير ما أنزل الله معتقدا أنه مثل ما أنزل الله أو خير منه
وهذا كفر لأنه أستبدل دين الله بغيره.
“Ayat ini dikatakan
(oleh sebagian ulama) turun kepada Yahudi. Mereka berdalil bahwa ayat
tersebut siyaq-nya adalah teguran/celaan kepada Yahudi. Allah ta’ala berfirman
: ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada)
petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara
orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh
orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka
diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi
terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah
kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit.
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka
mereka itu adalah orang-orang yang kafir’. Dikatakan pula bahwa ayat
tersebut umum, yaitu (turun) kepada Yahudi dan selain mereka. Inilah yang
benar, karena pelajaran itu diambil dari keumuman lafadh bukan dari kekhususan
sebab. Namun, macam apakah kekufuran yang dimaksudkan di sini ? Sebagian mereka
mengatakan bahwa itu adalah kekufuran di bawah kekufuran (kufrun duuna
kufrin). Telah diriwayatkan hal itu dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu
‘anhuma. Hal itu seperti sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi
wa sallam : ‘Mencaci seorang muslim adalah kefasiqan, dan
memeranginya adalah kekufuran’. Ini adalah kekufuran di bawah kekufuran (kufrun
duuna kufrin) dengan dalil firman Allah ta’ala : ‘Dan
jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara
keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap
golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga
golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali
(kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan
berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara’ (QS. Al-Hujuraat :
9-10). Allah ta’ala menjadikan dua golongan yang saling
berperang sebagai saudara bagi golongan ketiga yang mendamaikan. Peperangan
seorang mukmin kepada mukmin lainnya adalah kekufuran, namun kekufuran di bawah
kekufuran (kufrun duuna kufrin). Dikatakan pula, yaitu ayat : ‘Barangsiapa
yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah
orang-orang yang kafir’ ditujukan kepada seseorang yang berhukum
dengan selain yang diturunkan Allah tanpa adanya ta’wil; yang
bersamaan dengan itu ia mengetahui kewajiban berhukum dengan hukum Alah ‘azza
wa jalla; namun ia malah berhukum dengan selain yang diturunkan Allah
dengan keyakinan bahwa hal itu seperti hukum yang diturunkan Allah, atau lebih
baik dari hukum Allah; maka ini adalah kufur (akbar). Karena ia telah mengganti
agama Allah dengan selainnya” [Fataawaa Nuur ‘alad-Darb, juz 2 –
Maktabah Ruuhul-Islaam].
Itulah yang dapat
dituliskan atas sebagian penjelasan keshahihan atsar Ibnu ‘Abbasradliyallaahu
‘anhuma dan pemahaman para ulama salaf yang menyertainya. Banyak hal
yang belum disinggung dalam tulisan ini – khususnya mengenai beberapa syubhat takfiriyyuun terkait
bahasan berhukum dengan selain hukum Allah. Namun, semoga yang sedikit ini
dapat menjadi saham kecil dalam rangka nasihat kepada Allah, kitab-Nya,
Rasul-Nya, para pemimpin, dan kaum muslimin pada umumnya. Dan semoga dapat
berguna bagi Penulisnya dan bagi Pembaca semuanya.
Wallaahu a’lam
bish-shawwaab.
[Abu Al-Jauzaa’, di
suatu pagi bulan Rajab 1430 H].
Banyak mengambil faedah dari :
- Qurratul-‘Uyuun
fii Tashhiih Tafsir ‘Abdilah bni ‘Abbas li-Qauli ta’ala Wa Man Lam Yahkum bi
Maa Anzalallaah fa Ulaaika Humul-Kaafiruun oleh Abu Usaamah Saalim bin
‘Ied Al-Hilaliy
- Al-Hukmu
bi-Ghairi Maa Anzalallaah oleh Dr. Khaalid Al-Anbariy.
- Takfiirul-Hukkaam
Al-Muslimiin wal-Khuruuj ‘alaihim oleh Abu Yuunus.
- Beberapa
referensi pelengkap dari buku-buku hadits, ilmu hadits, tafsir, dan yang
lainnya; serta beberapa artikel internet.
[1] Namun Al-Imam
Al-Bukhari memutlakkan istilah ‘laisa bil-qawiy’ dengan kedla’ifan
[Al-Muuqidhah, hal. 83].
[2] Akan tetapi
Al-Haafidh Al-‘Iraqiy memberikan perincian bahwa tidak boleh membawa lafadhlaisa
bihi ba’s kepada tsiqah dari Ibnu Ma’in kecuali ia
(Ibnu Ma’in) menegaskan kesamaan dua lafadh tersebut. Wallaahu a’lam [lihat
oleh Taudliihul-Afkaar Ash-Shan’aniy, 2/164].
from= http://abul-jauzaa.blogspot.fr/2009/07/shahih-atsar-ibnu-abbas-kufrun-duuna.html